S
|
ore itu hujan belum reda , genangan air masih membanjiri jalan, cahaya mega merah menghiasi langit
sore itu. Lalu lalang kendaraan mulai kembali bergemuruh seiring berlalunya
rintik hujan yang mengguyur pelataran
sore itu, kicauan burung yang hendak kembali kesangakarnya mengiringi isak
tangis dibalik pintu kamar. Entah apa yang terjadi padanya sehingga sedu sedan
tangisnya teramat memilukan, isak tangisnya mengisaratkan sesuatu hal yang
sangat luar biasa telah menimpa dirinya. Desiran angin dingin yang singgah
dikulit mulai menari – nari dan menusuk hingga ketulang.
Aku berdiri menatap sebuah pintu kamar yang tertutup rapat,
dari balik pintu itu suara isak tangis
yang begitu menyayat hati mengalun seiring beranjaknya sang waktu, sebuah
kalender menempel dipintu terlihat jelas coretan merah ditanggal 12 februari,
sebuah tanda yang mungkin ada hal penting dihari itu, suara isak tangis dibalik
pintu itu belum juga berhenti sudah hampir satu jam aku berdiri dan hanya
mendengarkan isak tangis, aku tak bisa berbuat apa – apa aku hanya bisa
mengawasinya dari kejauhan saja, dan memperhatikan semua yang dilakukannya, aku
belum bisa beristirahat sampai semua ini membaik kembali, mungkin ini sudah
menjadi tugasku satu kali dua puluh empat jam aku harus mengawasinya.
Perlahan waktu mulai beranjak meninggalkan cahaya sore, seakan
isak tangis itu mengundang malam yang gelap datang padanya, agar ia bisa
bersembunyi dalam kegelapan malam, hingga akhirnya gelap malampun benar –benar
menyelimuti bumi.
Dari luar kamar terdengar sekumpulan orang membacakan doa – doa dengan
khidmat, dengungan doa – doa membumbung tinggi memecah keheningan malam.
Dan disaat itu pula pintu kamar terbuka, terdengar suara langkah
kaki memasuki ruangan itu, sesaat suara isak tangis dari balik pintu itupun
mereda
“ Rey sudahlah, semua ini sudah terjadi jika kau terus bersedih, itu tak akan mengembalikan keadaan,
ibu tau perasaanmu tapi tidak seharusnya kamu seperti ini “,
Waktu mulai
merangkak membawa Rey melewati setiap detik penuh kesedihan dan air mata.
Hembusan angin malam yang menyusup melalui sela – sela jendela kamar mulai
meraba sekujur tubuh Rey,membuainya disebuah peraduan seakan angin ingin
membawanya kealam mimpi untuk melupakan sejenak apa yang telah di alaminya. Dia
miulai melepaskan genggaman tangannya, dan sebuah kertas yang remuk jatuh
kelantai seiring dengan terpejam matanya, di atas kertas itu terlihat goresan
tinta yang ia baca tadi siang, apa yang ia baca menghempaskan semua harapan dan
impian
Aku memberanikan diri masuk kamar Rey, aku melihat ia telah
tertidur,aku melihat sebuah kertas terjatuh dilantai, aku membuka remukan
kertas itu tapi kertas itu harus aku kembalikan dalam bentuk semula setelah aku
mebaca apa yang tertulis disana
Wahai dunia
Kau tau cinta begitu
indah
Semua warna yang ada
memberikanku impian
Wanginya bunga yang
mekar memberikanku segala harapan
Dunia……
kau tau dialah cintaku
Dia selalu mengisi
waktuku
Dia begitu berarti
dalam hidupku
Aku akan membawa selalu
cintanya kemanapun aku pergi
Dunia….
Cintaku saat ini ada
disana
Dia berjuang untukku
Berjuang untuk mewujudkan
harapan dan impian kami
Mewujudkan harapan dan
impian yang kami dambakan
Dunia….
Aku memohon kepada yang
menciptakanmu
Agar kami dipersatukan
Tapi dunia
Kini aku semakin takut
Aku tak diberikan waktu
untuk melihatnya lagi
Aku takut kehilangannya
Karena dia begitui
berarti untukku.
Kau tau dunia
Dua hari yang lalu aku
bertemu denganya
Bercanda penuh tawa
Dia berjanji padaku
Dua hari lagi dia akan
menemuiku untuk menyatukan cinta kami
Dudownload imagnia…
Aku sungguh tak sanggup
mengatakan ini kepadanya
Aku takut akan
mengahncurkan hatinya
Dunia
Rey begitu berarti
bagiku
Aku memohon kepada
yang menciptakanmu
Agar Dia selalu
menjaganya
Disetiap waktu
dimanapun ia berada
Disaat aku tak
disampingnya.
Aku selau berdoa agar
ia selalu bahagia
Dunia …..
Aku titipkan kepadamu
Kepada ruang dan waktu
Kepada zaman dan masa
Kepada rindu dan cinta.
Kemana lagi kaki akan
melangkah
Selain kepada- MU
Berikanlah aku
cahaya Mu.
Waktu terus bergerak maju
meninggalkan masa lalu, hingga akhirnya pagipun datang menyapa kembali, cahaya
sang surya pagi mengetuk jendela kamar Rey dan cahaya kuningpun membangunkanya
dari mimpi yang ia lalui sepanjang malam. Dan ketika ia terjaga ia menatap
kelangit – langit kamar seakan ada sesuatu yang ia cari dan dengan perasaan
yang kacau ia menatap sekeliling sudut kamar, dan pada akhirnya ia menatap
kelantai dan tertuju kepada sebuah kertas seketika itu dia melompat dan
meraihnya, dibuka kembali kertas yang telah ia remuk dan memeluk kertas lusuh
itu, seakan memeluk bidaari. Dan kembali lagi air mata menghujani pagi cerah
itu “ tidak…..” jeritan keluar dari mulutnya membuyarkan suasana dari luar
kamar terdengar suara kaki berlari mendekat menuju pintu kamar, terdengar suara
pintu terbuka “ Rey….. kau baik – baik saja ‘
“bu… mengapa ini terjadi padaku, aku tak bisa menerima
kenyataan ini “
“ sabar, nak “ terlihat air mata dari kedua kelopak mata
wanita paruh baya ter sebut
“ Rey …, mandilah biar lebih segar,” sambil mememluk dan
mengusap anaknya ia terus membujuk Rey ia berharap Rey menemukan keceriannya
Kembali.Rey pun dengan gontai melangkah menuju kekamar mandi hingga bebebrapa
waktu lamanya. Waktu terus berberak meninggalkan pagi.
Rey berjalan menyusuri jalan desa, tatap matanya yang
sendu dan muka pucatnya membuat semua orang merasa iba dengan apa yang
menimpanya. Matanya tertuju kesebuah toko dan segera ia membelokkan langkah
kakinya, ia membeli serangkaian bunga mawar merah, di sebuah toko dipinggir
jalan yang ia lalui.
Pada akhirnya ia sampai disebuah tempat dia duduk disana, dan
air mata menetes membasahi pipinya, kata – kata terucap dari mulutnya dengan
samar – samar .
“ Elina ….. maafkan aku, aku bawakan bunga untukmu beberapa
hari lalu aku tak sempat memberikanmu bunga. Aku telah berulang kali membaca
tulisanmu aku tau begitu besar harapan yang kau impikan, ini aku membawa cincin
sebagai tanda ikatan kita, seharusnya kemarin aku pasangkan dijarimu, tapi
maafkan aku, aku tak dapat melakukannya “
Isak tangisnya mulai memilukan hati, dari kejauhan seorang
gadis melihat Rey yang duduk sambil menangis, iamelangkah mendekati Rey
“ kak Rey….”
Ia menyapa Rey, terlihat iapun menagis dan duduk disamping
Rey
“ Rin…. Dunia sungguh tak adil padaku “
“ kak jangan berkata begitu …. Dia akan sedih melihatmu
begini “
Rey terdiam sejenak menunggu kata – kata Rin selanjutnya
seakan dia tau bahwa kedatangannya kesanan untuk memceritakan sesuatu
“ aku tau kami merasa bersalah padamu, Elina melarang kami
untuk memberitahukan ini padamu, kamipun tak tega jika kau mengetahui ini jelas
kau akan kecewa, dia memberitahu kami kalau kau akan melamarnya. Kami tak dapat
berbuat apa – apa dia begitu senang dengan janjimu.
Tapi saat kau dating tanggal sepuluh februari lalu, pagi itu
kami baru pulang dari rumah sakit, aku, ayah dan ibu begitu terpukul mendengar
kata dokter “
Rin terdiam tak melanjutkan ceritanya
“ apa yang terjadi “
Tanya Rey kepada Rin
“ Elina mengidap kanker otak stadium akhir dan dokter
memponis umurnya hanya beberapa hari lagi “
Rey tersentak mendengar apa yang dikatakan adik kekasihnya
itu, hingga air mata terus mengucur dari kedua matanya
“ mengapa aku tak pernah mengetahui ini “
Ucap Rey pada Rin
“ dia melarang kami untuk member tahukan ini padamu, dia
begitu senang saat kau katakana kau akanmelamarnya, seakan harapan untuk terus
hidup dating kembali, tapi di hari saat kau akan melamarnya Tuhan memanggilnya
hanya satu jam sebelum kau datang, tepatnya pukul tiga sore “
Dengan isak tangis Rin menceritakan kejadiannya yang
menimpanya”
Dari
kejauhan aku menyaksikan kejadian itu, tanpa terasa aku meneteskan air mata,
melihat sahabat dekatku dalam kesedihan. Aku melangkah mendekati mereka yang
berlinang air mata, atanpa sepatahpun aku langsung duduk didekat Rey.
“ aku akan memenuhi janjiku padanya “
Kata – kata itu terlontar dari mulut Rey
Aku sungguh tak mengerti apa yang ia maksdudkan, mengubah
kesedihan yang kurasakan kedalam kebingungan.
“ bram maukah kau menjadi saksi bagiku “
Tiba – tiba Rey memintaku untuk menjadi saksi, jelas ini
tambah menjadikaku dalam kebingungan
“ saksi apa Rey “ jawabku penuh Tanya
“ aku akan melamar Elina “ jawabnya Pelan, aku dan Rin, tersentak
mendengar ucapannya
“ apa kau sadar dengan ucapanmu, kakakku sudah meninggal, apa
kau tidak melihat didepanmu makam kakakku ini Rey “
Ucap rin kepada Rey, tapi sebelum ia melanjutkan ucapannya Rey
langsung mengambil segenggam tanah dari makam dihadapanya
“ Elina … aku telah berjanji melamarmu, hari ini mereka
berdua sebagai saksi, aku mememnuhi janjiku, aku melamarmu, aku ingin cinta
kita tetap menyatu biarkan dunia menyatukan kita, aku ingin selalu ada
didekatmu untuk selamanya”
Sambil menagis Rey meletakkan sebuah cincin diatas batu nisan
dihadapannya. Kami hanya terdiam menyaksikan kejadian ini. Lalu semua menjadi
hening untuk beberapa saat lamanya.
“ Ayo kita pulang ” tiba – tiba Rey
berdiri dengan senyum yang begitu bahagia, tanpa menjawab kami mengikuti
ajakannya, entah apa yang terjadi padanya, kami melihat kesedihannya hilang
dalam waktu sekejab
“ Bram kau tak usah mengawasiku lagi, aku tau ibu memintamu
mengawasiku liahatlah kau begitu lelah “
Ucap rey padaku dengan penuh ceria aku hanya menganggukan
kepala sebagai isarat
“ Rink au juga harus menjaga ibumu, kini hanya tinggal kau harapan
mereka “
“ iya kak “ jawab Rin singkat. Kami terus berjalan pulang
akau dan Rin melihat seolah – olah rey begitu bahagia dia berjalan penuh
semangat dan ceria, bahkan dia berjalan begitu cepat seakan – akan ada sesuatu
yang ia buru dihadapannya.
“ oh … ya apakah kalian percaya bahwa cinta itu abadi “
Tiba – tiba Rey bertanya pada kami berdua, kami hanya saling
pandang tidak mengerti dengan kealkuan Rey yang tiba – tiaba, berlahan dia
menatap kami berdua, tatapan matanya
seakan mengisyaratkan sesuatu kepada kami berdua.
“ Bram tolong jaga ibuku, katakana pada ibu aku sudah tidak
bersedih lagi “
Sekali lagi aku hanya bisa mengangukkan kepala, kami terus
berjalan hingga sampai diperempatan jalan dan tiba – tiba rin menjerit
“ Rey…… awasssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss “
Sebuah truk menghantam tubuh Rey ketika dia akan menyebrang
jalan,
“ Rey…. “ aku berteriak sambil menyusul tubuh Rey yang
tergeletak tak berdaya, aku meraih tubunya darah segar mengalir dari hidungnya,
tak lama dari itu puluhan orang telah mengerumuni kami sementara Rin menjerit
menangis sejadi jadinya
“ Rey…. Bangun reyyyy..” aku berusaha menyadarkannya
“ Elina aku datang menemanimu, aku tak akan sendiri lagi,kau
tak perlu mera kesepian aku akan selau menenmanimu “
Kata – kata itu terucap dari mulut Rey dan itu menjadi kata
terakhir sebelum mengucap kalimat
Toyibah.
“ Reyy……… “ akumenjerit sekuat – kuatnya, memecah suasana, hingga
apa yang kulihat hanyalah gelap.dan saat ku terjaga langit mendung sore hari
itu menyelimuti desa. Dan aku sadar Rey telah menemui impiannya.