Senin, 06 Oktober 2014

Materi Corel Draw

Sebagai bahan untuk pembelajaran mengenai corel draw SMA kelas XII silahkan down load filenya dengan klik link dibawah ini

DOWNLOAD COREL DISINI



DOWLOAD LOGO DISINI

Selasa, 23 September 2014

Mendung Hitam di Februari Senja






S
ore itu hujan belum reda , genangan air masih membanjiri  jalan, cahaya mega merah menghiasi langit sore itu. Lalu lalang kendaraan mulai kembali bergemuruh seiring berlalunya rintik hujan yang mengguyur  pelataran sore itu, kicauan burung yang hendak kembali kesangakarnya mengiringi isak tangis dibalik pintu kamar. Entah apa yang terjadi padanya sehingga sedu sedan tangisnya teramat memilukan, isak tangisnya mengisaratkan sesuatu hal yang sangat luar biasa telah menimpa dirinya. Desiran angin dingin yang singgah dikulit mulai menari – nari dan menusuk hingga ketulang.
Genagan air mulai surut dan mulai meninggalkan permukaan bumi, hanya sedikit air yang masih menggenang mungkin untuk memberi  kesempatan pada bebek yang hendak mandi di sore hari itu.
Aku berdiri menatap sebuah pintu kamar yang tertutup rapat, dari balik pintu itu  suara isak tangis yang begitu menyayat hati mengalun seiring beranjaknya sang waktu, sebuah kalender menempel dipintu terlihat jelas coretan merah ditanggal 12 februari, sebuah tanda yang mungkin ada hal penting dihari itu, suara isak tangis dibalik pintu itu belum juga berhenti sudah hampir satu jam aku berdiri dan hanya mendengarkan isak tangis, aku tak bisa berbuat apa – apa aku hanya bisa mengawasinya dari kejauhan saja, dan memperhatikan semua yang dilakukannya, aku belum bisa beristirahat sampai semua ini membaik kembali, mungkin ini sudah menjadi tugasku satu kali dua puluh  empat jam aku harus mengawasinya.
Perlahan waktu mulai beranjak meninggalkan cahaya sore, seakan isak tangis itu mengundang malam yang gelap datang padanya, agar ia bisa bersembunyi dalam kegelapan malam, hingga akhirnya gelap malampun benar –benar menyelimuti bumi.
Dari luar kamar terdengar  sekumpulan orang membacakan doa – doa dengan khidmat, dengungan doa – doa membumbung tinggi memecah keheningan malam.
Dan disaat itu pula pintu kamar terbuka, terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan itu, sesaat suara isak tangis dari balik pintu itupun mereda
“ Rey sudahlah, semua ini sudah terjadi jika kau terus  bersedih, itu tak akan mengembalikan keadaan, ibu tau perasaanmu tapi tidak seharusnya kamu seperti ini “,
Rey itulah nama panggilannya ia hanya diam ketika ibunya datang melihat keadaanya dikamar, mulutnya seakan terkunci dan tak mampu mengatakan sepatah katapun dari mulutnya, hanya air mata yang membanjiri lantai kamarnya seakan semua sesak didanya ditumpahkan bersama air mata yang ia curahkan dari kedua kelopak matanya,   “ Rey, sudahlah kau harus banyak berdoa, tidurlah mungkin esok perasaanmu akan lebih baik “    sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan itu terlihat wanita itu mengusap air matanya yang sudah tak mampu lagi ia bendung melihat kesedihan yang di alami anaknya, suatu hal yang terjadi begitu saja, tak ada mendung tak ada angin tiba – tiba dia harus menerima keadaan yang begitu berat.
            Waktu mulai merangkak membawa Rey melewati setiap detik penuh kesedihan dan air mata. Hembusan angin malam yang menyusup melalui sela – sela jendela kamar mulai meraba sekujur tubuh Rey,membuainya disebuah peraduan seakan angin ingin membawanya kealam mimpi untuk melupakan sejenak apa yang telah di alaminya. Dia miulai melepaskan genggaman tangannya, dan sebuah kertas yang remuk jatuh kelantai seiring dengan terpejam matanya, di atas kertas itu terlihat goresan tinta yang ia baca tadi siang, apa yang ia baca menghempaskan semua harapan dan impian
Aku memberanikan diri masuk kamar Rey, aku melihat ia telah tertidur,aku melihat sebuah kertas terjatuh dilantai, aku membuka remukan kertas itu tapi kertas itu harus aku kembalikan dalam bentuk semula setelah aku mebaca apa yang tertulis disana
Wahai dunia
Kau tau cinta begitu indah
Semua warna yang ada memberikanku impian
Wanginya bunga yang mekar memberikanku segala harapan

Dunia……
 kau tau dialah cintaku
Dia selalu mengisi waktuku
Dia begitu berarti dalam hidupku
Aku akan membawa selalu cintanya kemanapun aku pergi
Dunia….
Cintaku saat ini ada disana
Dia berjuang untukku
Berjuang untuk mewujudkan harapan dan impian kami
Mewujudkan harapan dan impian yang kami dambakan

Dunia….
Aku memohon kepada yang menciptakanmu
Agar kami dipersatukan
Tapi dunia
Kini aku semakin takut
Aku tak diberikan waktu untuk melihatnya lagi
Aku takut kehilangannya
Karena dia begitui berarti untukku.
Kau tau dunia
Dua hari yang lalu aku bertemu denganya
Bercanda penuh tawa
Dia berjanji padaku
Dua hari lagi dia akan menemuiku untuk menyatukan cinta kami

Dudownload imagnia…
Aku sungguh tak sanggup mengatakan ini kepadanya
Aku takut akan mengahncurkan hatinya

Dunia
Rey begitu berarti bagiku
Aku memohon kepada yang  menciptakanmu
Agar Dia selalu menjaganya
Disetiap waktu dimanapun ia berada
Disaat aku tak disampingnya.
Aku selau berdoa agar ia selalu bahagia
Dunia …..
Aku titipkan kepadamu
Kepada ruang dan waktu
Kepada zaman dan masa
Kepada rindu dan cinta.

Kemana lagi kaki akan melangkah
Selain kepada- MU
Berikanlah aku cahaya  Mu.

Waktu terus bergerak maju meninggalkan masa lalu, hingga akhirnya pagipun datang menyapa kembali, cahaya sang surya pagi mengetuk jendela kamar Rey dan cahaya kuningpun membangunkanya dari mimpi yang ia lalui sepanjang malam. Dan ketika ia terjaga ia menatap kelangit – langit kamar seakan ada sesuatu yang ia cari dan dengan perasaan yang kacau ia menatap sekeliling sudut kamar, dan pada akhirnya ia menatap kelantai dan tertuju kepada sebuah kertas seketika itu dia melompat dan meraihnya, dibuka kembali kertas yang telah ia remuk dan memeluk kertas lusuh itu, seakan memeluk bidaari. Dan kembali lagi air mata menghujani pagi cerah itu “ tidak…..” jeritan keluar dari mulutnya membuyarkan suasana dari luar kamar terdengar suara kaki berlari mendekat menuju pintu kamar, terdengar suara pintu terbuka “ Rey….. kau baik – baik saja ‘
“bu… mengapa ini terjadi padaku, aku tak bisa menerima kenyataan ini “
“ sabar, nak “ terlihat air mata dari kedua kelopak mata wanita paruh baya ter sebut
“ Rey …, mandilah biar lebih segar,” sambil mememluk dan mengusap anaknya ia terus membujuk Rey ia berharap Rey menemukan keceriannya Kembali.Rey pun dengan gontai melangkah menuju kekamar mandi hingga bebebrapa waktu lamanya. Waktu terus berberak meninggalkan pagi.
Rey berjalan  menyusuri jalan desa, tatap matanya yang sendu dan muka pucatnya membuat semua orang merasa iba dengan apa yang menimpanya. Matanya tertuju kesebuah toko dan segera ia membelokkan langkah kakinya, ia membeli serangkaian bunga mawar merah, di sebuah toko dipinggir jalan yang ia lalui.
Pada akhirnya ia sampai disebuah tempat dia duduk disana, dan air mata menetes membasahi pipinya, kata – kata terucap dari mulutnya dengan samar – samar .
Elina ….. maafkan aku, aku bawakan bunga untukmu beberapa hari lalu aku tak sempat memberikanmu bunga. Aku telah berulang kali membaca tulisanmu aku tau begitu besar harapan yang kau impikan, ini aku membawa cincin sebagai tanda ikatan kita, seharusnya kemarin aku pasangkan dijarimu, tapi maafkan aku, aku tak dapat melakukannya “
Isak tangisnya mulai memilukan hati, dari kejauhan seorang gadis melihat Rey yang duduk sambil menangis, iamelangkah mendekati Rey
“ kak Rey….”
Ia menyapa Rey, terlihat iapun menagis dan duduk disamping Rey
“ Rin…. Dunia sungguh tak adil padaku “
“ kak jangan berkata begitu …. Dia akan sedih melihatmu begini “
Rey terdiam sejenak menunggu kata – kata Rin selanjutnya seakan dia tau bahwa kedatangannya kesanan untuk memceritakan sesuatu
“ aku tau kami merasa bersalah padamu, Elina melarang kami untuk memberitahukan ini padamu, kamipun tak tega jika kau mengetahui ini jelas kau akan kecewa, dia memberitahu kami kalau kau akan melamarnya. Kami tak dapat berbuat apa – apa dia begitu senang dengan janjimu.
Tapi saat kau dating tanggal sepuluh februari lalu, pagi itu kami baru pulang dari rumah sakit, aku, ayah dan ibu begitu terpukul mendengar kata dokter “
Rin terdiam tak melanjutkan ceritanya
“ apa yang terjadi “
Tanya Rey kepada Rin
“ Elina mengidap kanker otak stadium akhir dan dokter memponis umurnya hanya beberapa hari lagi “
Rey tersentak mendengar apa yang dikatakan adik kekasihnya itu, hingga air mata terus mengucur dari kedua matanya
“ mengapa aku tak pernah mengetahui ini “
Ucap Rey pada Rin
“ dia melarang kami untuk member tahukan ini padamu, dia begitu senang saat kau katakana kau akanmelamarnya, seakan harapan untuk terus hidup dating kembali, tapi di hari saat kau akan melamarnya Tuhan memanggilnya hanya satu jam sebelum kau datang, tepatnya pukul tiga sore “
Dengan isak tangis Rin menceritakan kejadiannya yang menimpanya”

            Dari kejauhan aku menyaksikan kejadian itu, tanpa terasa aku meneteskan air mata, melihat sahabat dekatku dalam kesedihan. Aku melangkah mendekati mereka yang berlinang air mata, atanpa sepatahpun aku langsung duduk didekat Rey.
“ aku akan memenuhi janjiku padanya “
Kata – kata itu terlontar dari mulut Rey
Aku sungguh tak mengerti apa yang ia maksdudkan, mengubah kesedihan yang kurasakan kedalam kebingungan.
“ bram maukah kau menjadi saksi bagiku “
Tiba – tiba Rey memintaku untuk menjadi saksi, jelas ini tambah menjadikaku dalam kebingungan
“ saksi apa Rey “ jawabku penuh Tanya
“ aku akan melamar Elina “ jawabnya Pelan, aku dan Rin, tersentak mendengar ucapannya
“ apa kau sadar dengan ucapanmu, kakakku sudah meninggal, apa kau tidak melihat didepanmu makam kakakku ini Rey “
Ucap rin kepada Rey, tapi sebelum ia melanjutkan ucapannya Rey langsung mengambil segenggam tanah dari makam dihadapanya
“ Elina … aku telah berjanji melamarmu, hari ini mereka berdua sebagai saksi, aku mememnuhi janjiku, aku melamarmu, aku ingin cinta kita tetap menyatu biarkan dunia menyatukan kita, aku ingin selalu ada didekatmu untuk selamanya”
Sambil menagis Rey meletakkan sebuah cincin diatas batu nisan dihadapannya. Kami hanya terdiam menyaksikan kejadian ini. Lalu semua menjadi hening untuk beberapa saat lamanya.
“ Ayo kita pulang ” tiba – tiba Rey berdiri dengan senyum yang begitu bahagia, tanpa menjawab kami mengikuti ajakannya, entah apa yang terjadi padanya, kami melihat kesedihannya hilang dalam waktu sekejab
“ Bram kau tak usah mengawasiku lagi, aku tau ibu memintamu mengawasiku liahatlah kau begitu lelah “
Ucap rey padaku dengan penuh ceria aku hanya menganggukan kepala sebagai isarat
“ Rink au juga harus menjaga ibumu, kini hanya tinggal kau harapan mereka “
“ iya kak “ jawab Rin singkat. Kami terus berjalan pulang akau dan Rin melihat seolah – olah rey begitu bahagia dia berjalan penuh semangat dan ceria, bahkan dia berjalan begitu cepat seakan – akan ada sesuatu yang ia buru dihadapannya.
“ oh … ya apakah kalian percaya bahwa cinta itu abadi “
Tiba – tiba Rey bertanya pada kami berdua, kami hanya saling pandang tidak mengerti dengan kealkuan Rey yang tiba – tiaba, berlahan dia menatap  kami berdua, tatapan matanya seakan mengisyaratkan sesuatu kepada kami berdua.
“ Bram tolong jaga ibuku, katakana pada ibu aku sudah tidak bersedih lagi “
Sekali lagi aku hanya bisa mengangukkan kepala, kami terus berjalan hingga sampai diperempatan jalan dan tiba – tiba rin menjerit
“ Rey…… awasssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss “
Sebuah truk menghantam tubuh Rey ketika dia akan menyebrang jalan,
“ Rey…. “ aku berteriak sambil menyusul tubuh Rey yang tergeletak tak berdaya, aku meraih tubunya darah segar mengalir dari hidungnya, tak lama dari itu puluhan orang telah mengerumuni kami sementara Rin menjerit menangis sejadi jadinya
“ Rey…. Bangun reyyyy..” aku berusaha menyadarkannya
“ Elina aku datang menemanimu, aku tak akan sendiri lagi,kau tak perlu mera kesepian aku akan selau menenmanimu “
Kata – kata itu terucap dari mulut Rey dan itu menjadi kata terakhir sebelum  mengucap kalimat Toyibah.
“ Reyy……… “ akumenjerit sekuat – kuatnya, memecah suasana, hingga apa yang kulihat hanyalah gelap.dan saat ku terjaga langit mendung sore hari itu menyelimuti desa. Dan aku sadar Rey telah menemui impiannya.